Jorge Martin kembali memimpin klasemen sementara MotoGP setelah seri Mandalika, tetapi keunggulannya atas Marc Marquez hanya dua poin. Dengan lima seri tersisa, pebalap Aprilia itu menilai persaingan melawan Marquez berbeda dari duel yang pernah ia jalani bersama Francesco Bagnaia: kesalahan kecil pun bisa langsung berbuah kerugian.
Martin mengoleksi 355 poin, sedangkan Marquez, yang membela Ducati, berada di posisi kedua dengan 353 poin. Jarak yang tipis membuat perebutan gelar masih terbuka dan berpeluang berlangsung hingga seri terakhir musim ini.
Bagi Martin, ini merupakan kali ketiga ia menghadapi persaingan gelar sampai penghujung musim di kelas utama. Dua pengalaman sebelumnya terjadi pada 2023 dan 2024, ketika ia berduel dengan Bagnaia. Pada kesempatan pertama, Bagnaia keluar sebagai juara. Setahun kemudian, Martin yang mengamankan gelar.
Martin melihat perbedaan pada konsistensi lawan
Perbedaan utama yang dirasakan Martin bukan semata soal kecepatan, melainkan konsistensi dalam memanfaatkan peluang. Saat bersaing dengan Bagnaia, kesalahan kecil yang dibuat Martin tidak selalu langsung mengubah keadaan. Bagnaia pun beberapa kali melakukan kesalahan yang memberi Martin kesempatan menambah poin.
Situasinya, menurut Martin, berbeda ketika berhadapan dengan Marquez. Ia menilai pebalap Spanyol itu lebih jarang membuat kesalahan dan sigap mengambil keuntungan setiap kali lawan kehilangan momentum. Karena itu, ruang bagi Martin untuk lengah menjadi semakin sempit.
“Menurut pengamatan saya, Marc lebih jarang melakukan kesalahan. Setiap kali Anda melakukan kesalahan kecil, dia akan langsung memanfaatkan momen itu untuk mengalahkan Anda. Dia selalu ada di sana,” kata Martin kepada Crash.
Catatan persaingan 2024 menunjukkan bahwa jumlah kemenangan tidak selalu menentukan hasil akhir. Bagnaia memenangi 11 balapan, sementara Martin hanya tiga kali menang. Namun, Martin tampil lebih konsisten sepanjang musim dan akhirnya menjadi juara dengan keunggulan 10 poin.
Pengalaman itu menjadi bekal Martin, tetapi ia tahu menghadapi Marquez menuntut pendekatan yang berbeda. Ia bertekad tampil semaksimal mungkin dan mengurangi kesalahan agar lawannya tidak mendapat celah untuk membalikkan keadaan.
Rekam jejak Marquez menambah tekanan
Martin juga menyadari perbedaan pengalaman dan jumlah gelar di antara mereka. Ia telah meraih dua gelar juara, masing-masing di Moto3 dan MotoGP. Marquez, sebaliknya, sudah mengoleksi sembilan gelar. Perbandingan tersebut, menurut Martin, jelas bukan keuntungan baginya.
Rekam jejak Marquez dalam persaingan gelar langsung turut menjadi perhatian. Ia pernah dipaksa bertarung sampai seri terakhir sebanyak dua kali, yakni pada musim 2013 dan 2017, dan selalu keluar sebagai juara.
Pada 2013, musim debutnya di MotoGP, keunggulan Marquez di klasemen sempat tergerus setelah ia didiskualifikasi di Grand Prix Australia. Jorge Lorenzo memenangi balapan di Australia dan seri berikutnya di Jepang, sehingga perebutan gelar berlanjut hingga Valencia. Marquez tetap mampu mengunci gelar pada akhir musim.
Empat tahun kemudian, ia kembali menghadapi duel hingga seri penutup, kali ini melawan Andrea Dovizioso dari Ducati. Hasilnya serupa: Marquez keluar sebagai juara. Rekam jejak itu membuat Martin perlu menjaga konsistensi sekaligus ketenangan dalam menghadapi tekanan di sisa musim.
Persaingan gelar MotoGP belum hanya dua pebalap
Marquez sendiri menolak anggapan bahwa perebutan gelar musim 2026 hanya melibatkan dirinya dan Martin. Ia menyebut Marco Bezzecchi sebagai pesaing ketiga yang bisa mengubah arah persaingan. Bezzecchi juga membela Aprilia dan sudah memenangi enam seri, termasuk di Mandalika.
Marquez memulai musim dari posisi yang kurang menguntungkan. Setelah menjalani operasi bahu seusai seri Perancis, ia sempat tertinggal 102 poin dari pemuncak klasemen. Sejak itu, ia memenangi enam seri, sementara Martin baru sekali menang di balapan utama musim ini.
Martin mengatakan ia akan memberikan kemampuan terbaiknya, tetapi hasil akhir tetap bergantung pada seberapa baik ia menjalankan setiap bagian dari persaingan. “Saya berusaha memberikan yang terbaik. Saya tidak bisa berbuat lebih dari kemampuan maksimal saya. Sejujurnya, apakah saya akan menang atau tidak, itu semua bergantung pada seberapa baik saya menjalankan segalanya,” ujarnya seusai seri Indonesia di Sirkuit Mandalika.
Dengan lima seri tersisa dan selisih hanya dua poin, setiap balapan akan menjadi ujian bagi konsistensi para kandidat juara. Martin harus menjaga peluangnya di tengah tekanan Marquez dan ancaman Bezzecchi. Persaingan yang rapat itu membuat hasil akhir musim masih sulit dipastikan.

