PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mengeluarkan biaya eksplorasi sebesar USD3.699.713 atau sekitar Rp66,17 miliar untuk kegiatan pencarian batu bara di area West Usai-Melibu hingga kuartal III-2026. Pekerjaan yang dijalankan anak usahanya, PT Lahai Coal, mencakup 248 titik pengeboran dengan total kedalaman lebih dari 25 ribu meter.
Dalam laporannya, ADRO menyebut pengeboran tersebut terdiri atas 20.428 meter dengan metode open hole dan 5.152 meter coring. Perhitungan nilai rupiah menggunakan asumsi kurs Rp17.887 per dolar AS.
Ratusan titik pengeboran di West Usai-Melibu
Eksplorasi di wilayah West Usai-Melibu dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi dan potensi batu bara. Hingga periode pelaporan, Lahai Coal telah menuntaskan pengeboran pada 248 titik. Total kedalaman dari dua metode yang digunakan mencapai 25.580 meter.
Angka tersebut memperlihatkan cakupan pekerjaan yang telah dilakukan, tetapi laporan yang tersedia tidak merinci hasil geologi dari setiap titik pengeboran. ADRO juga belum menyampaikan dalam informasi tersebut berapa potensi penambahan sumber daya yang mungkin diperoleh dari kegiatan ini.
Karena itu, jumlah titik dan kedalaman pengeboran perlu dibaca sebagai catatan aktivitas eksplorasi, bukan sebagai pengumuman besaran cadangan baru. Perusahaan menyatakan pengeboran masih akan diteruskan agar informasi mengenai potensi batu bara di area West Usai menjadi lebih detail.
Rincian metode dan biaya eksplorasi ADRO
Lahai Coal menggunakan metode open hole dan coring. Dalam laporan ADRO, kedua metode itu disebut sebagai bagian dari upaya memperoleh keterangan mengenai kondisi serta potensi batu bara di kawasan eksplorasi. Rincian kedalaman menunjukkan porsi pekerjaan open hole mencapai 20.428 meter, sedangkan coring tercatat sepanjang 5.152 meter.
Kegiatan tersebut dikerjakan oleh Maruwai Coal, PT Duta Borneo Mining (DBM), dan PT Indonesia Carbon Energy (ICE). Informasi yang dipublikasikan tidak merinci pembagian pekerjaan maupun biaya di antara ketiga pihak tersebut. Nilai Rp66,17 miliar merupakan total biaya eksplorasi yang dilaporkan untuk kegiatan di area itu.
Dalam mata uang asalnya, biaya tersebut tercatat USD3.699.713. Angka rupiah yang disampaikan merupakan konversi dengan kurs Rp17.887 per dolar AS, sehingga nilai itu mengikuti asumsi kurs yang digunakan dalam laporan, bukan pernyataan mengenai kurs lain.
Rincian jumlah pengeboran, kedalaman, metode, dan biaya memberi gambaran tentang skala pekerjaan yang sudah berlangsung. Namun, laporan itu tidak menyertakan informasi mengenai temuan per titik, mutu batu bara, ataupun perkiraan waktu penyelesaian keseluruhan kegiatan. Dengan demikian, belum ada dasar dari informasi tersebut untuk menyimpulkan hasil akhir eksplorasi.
Pengeboran masih berlanjut untuk mengukur potensi
ADRO menyatakan pengeboran akan dilanjutkan guna mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai kemungkinan penambahan sumber daya batu bara di wilayah West Usai. Pernyataan itu menandakan kegiatan eksplorasi belum berhenti pada capaian 248 titik yang dilaporkan hingga kuartal III-2026.
Tahap lanjutan tersebut menjadi bagian penting dalam memperjelas gambaran potensi wilayah. Meski demikian, perusahaan belum memaparkan berapa banyak titik tambahan yang akan dikerjakan, berapa anggaran lanjutan yang disiapkan, atau kapan hasil kegiatan berikutnya akan diumumkan.
Perkembangan eksplorasi selanjutnya akan menunjukkan apakah data pengeboran dapat memberikan gambaran lebih lengkap tentang potensi batu bara di West Usai. Untuk saat ini, informasi yang tersedia berfokus pada aktivitas dan biaya yang sudah dikeluarkan, sementara hasil terperinci dan kemungkinan penambahan sumber daya masih menunggu proses pengeboran berikutnya.

