Raul Fernandez finis di posisi kedua dalam Grand Prix MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika, meski menjalani balapan dengan dua jari patah. Pembalap Trackhouse itu menyembunyikan cederanya setelah mengalami kecelakaan dengan Marco Bezzecchi pada sesi Sprint Race, lalu menyesuaikan teknik pengereman agar tetap bisa berlomba.
Fernandez bahkan sempat memimpin selama 18 lap pertama. Namun, Bezzecchi kemudian menyalipnya. Hasil akhir itu menempatkan Fernandez di podium, sebuah pencapaian yang terasa berbeda setelah ia mengungkap kondisi tangannya seusai balapan.
Cedera Raul Fernandez bermula dari kecelakaan Sprint Race
Insiden yang membuat Fernandez cedera terjadi sehari sebelum balapan utama, dalam sesi Sprint Race. Ia bertabrakan dengan Bezzecchi. Setelah melihat tangannya, Fernandez merasa sudah mengetahui bahwa jarinya patah, bahkan sebelum memeriksakan diri ke klinik.
“Kemarin, ketika saya mengalami kecelakaan dan melihat tangan saya, saya sudah tahu sebelum pergi ke klinik bahwa jari saya patah, jari yang biasanya saya gunakan untuk mengerem,” kata Fernandez setelah Grand Prix, seperti dikutip dari Grandepremio.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri karena salah satu jari yang cedera biasa ia gunakan saat mengerem. Dalam balapan, kemampuan mengendalikan pengereman menjadi bagian penting dari pekerjaan pembalap. Fernandez pun harus menyesuaikan tekniknya, meski sumber tidak merinci perubahan yang ia lakukan.
Fernandez baru menyadari bahwa cedera yang dialaminya lebih dari satu jari ketika bangun pada pagi hari. Ia mengatakan dua jarinya patah. Meski demikian, ia tetap bersiap untuk balapan dan tidak memberi tahu orang lain mengenai kondisi tersebut.
Memimpin 18 lap sebelum disalip Bezzecchi
Di lintasan Mandalika, Fernandez mampu menjaga kecepatan hingga memimpin 18 lap pertama. Ia bertahan di posisi terdepan sebelum akhirnya dilewati Bezzecchi. Fernandez kemudian menyelesaikan Grand Prix di urutan kedua.
Hasil itu menunjukkan bahwa cedera tidak membuatnya mundur dari perlombaan. Namun, capaian tersebut bukan berarti rasa sakitnya hilang. Fernandez mengaku memilih menyimpan rasa sakit itu sendiri dan tetap berkonsentrasi pada balapan.
“Pagi ini, ketika saya bangun, saya menyadari bahwa bukan hanya satu, tetapi dua jari saya patah. Tidak ada yang tahu. Saya mencoba untuk tidak mengatakan apa-apa, hanya menyimpan rasa sakit itu untuk diri saya sendiri dan tetap fokus pada perlombaan.”
Pengakuan itu memberi gambaran tentang kondisi yang tidak terlihat selama balapan. Dari luar, yang tercatat adalah Fernandez memimpin di awal dan akhirnya finis kedua. Di balik hasil tersebut, ia harus mengelola rasa sakit sekaligus mengubah cara mengerem agar tetap mampu mengendalikan motor.
Podium di Mandalika di tengah keterbatasan
Finis kedua menjadi hasil penting bagi Fernandez dalam Grand Prix Indonesia. Ia tidak hanya bertahan setelah kecelakaan pada Sprint Race, tetapi juga mampu berada di depan selama sebagian besar awal balapan utama. Bezzecchi akhirnya mengambil alih posisi terdepan, sementara Fernandez mempertahankan tempat kedua hingga finis.
Fernandez memilih merahasiakan cedera itu selama akhir pekan balap. Menurut pengakuannya, tak seorang pun mengetahui kondisinya ketika ia mencoba fokus menghadapi perlombaan. Ia baru menceritakan bahwa dua jarinya patah setelah Grand Prix selesai.
Kisah Fernandez di Mandalika memperlihatkan sisi lain dari hasil balapan: angka di klasemen tidak selalu menggambarkan seluruh kesulitan yang dialami pembalap di lintasan. Bagi Fernandez, podium itu diraih dengan kondisi tangan yang cedera dan teknik pengereman yang harus disesuaikan. Kondisi jarinya setelah balapan tidak dijelaskan dalam keterangan yang tersedia, sehingga perkembangan pemulihannya masih menjadi hal yang perlu ditunggu.

