IHSG Berpeluang Rebound, Pasar Menanti Hasil Review MSCI

IHSG Berpeluang Rebound, Pasar Menanti Hasil Review MSCI

IHSG berpeluang rebound dalam jangka pendek setelah bergerak melemah, tetapi arah indeks masih bergantung pada hasil tinjauan klasifikasi pasar oleh MSCI. Dalam riset yang dikutip InvestorTrust, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan indeks pada Rabu (24/6/2026) bergerak di rentang 6.071–6.300.

Perhatian investor tertuju pada keputusan MSCI yang mempertahankan pasar modal Indonesia dalam kategori emerging market. Pelaku pasar juga mencermati kemungkinan perbaikan status market accessibility atau aksesibilitas pasar Indonesia, yang dinilai dapat memengaruhi sentimen terhadap saham domestik.

Rebound masih menjadi peluang, bukan kepastian. BRI Danareksa menyebut hasil tinjauan MSCI dapat menjadi penentu arah IHSG dalam jangka pendek. Jika hasilnya sesuai atau lebih baik daripada ekspektasi pasar, indeks berpeluang menguat.

Hasil MSCI jadi perhatian pelaku pasar

Sentimen dari MSCI hadir ketika IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. BRI Danareksa menempatkan area support pada 6.070–5.930, sementara resistance berada di 6.300–6.350. Rentang tersebut menggambarkan ruang pergerakan indeks yang masih lebar di tengah tarik-menarik sentimen.

Risiko koreksi belum sepenuhnya hilang. Dalam analisis teknikal yang dikutip Bloomberg Technoz pada 23 Juni, Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas memperkirakan IHSG rawan menguji area 5.732–5.972. Namun, ia juga menyebut indeks masih memiliki peluang menguat ke rentang 6.548–6.782.

Perbedaan proyeksi itu menunjukkan bahwa pelaku pasar perlu memperhatikan dua skenario: tekanan jual dapat membawa indeks menguji area support yang lebih rendah, sedangkan sentimen yang membaik membuka ruang penguatan. Herditya mencatat IHSG masih mampu bertahan di atas MA20 dalam analisisnya, meski pergerakan sebelumnya disertai tekanan jual.

Arus asing masih mencatatkan penjualan bersih

Data perdagangan yang dipaparkan InvestorTrust menunjukkan IHSG pada penutupan terakhir yang dicatat melemah 15,36 poin atau 0,25% ke level 6.101,33. Pada saat yang sama, investor asing membukukan penjualan bersih saham sebesar Rp311,60 miliar.

Penjualan asing terbesar dalam catatan tersebut terjadi pada saham BMRI senilai Rp386,58 miliar, disusul DSSA sebesar Rp95,45 miliar. Angka ini memperlihatkan tekanan jual asing masih menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan, meskipun pergerakan indeks juga dipengaruhi sentimen global dan perkembangan saham per sektor.

Hampir seluruh sektor yang disebut dalam laporan itu melemah, termasuk energi, teknologi, keuangan, dan transportasi. Di sisi lain, sektor industri, material dasar, konsumer primer, kesehatan, dan properti tercatat menguat. Perbedaan kinerja sektoral menandakan tekanan tidak tersebar merata di seluruh pasar.

Saham pilihan dan level yang dicermati

Untuk perdagangan hari itu, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham OASA, RAJA, dan MBMA. Target harga yang dicantumkan masing-masing berada di Rp292–308 untuk OASA, Rp4.260–4.570 untuk RAJA, dan Rp545–585 untuk MBMA.

Rekomendasi tersebut merupakan pandangan riset sekuritas, bukan jaminan bahwa harga saham akan mencapai target. Investor tetap perlu memperhitungkan risiko, terutama karena indeks masih berada dalam fase konsolidasi dan hasil review MSCI dapat memengaruhi sentimen jangka pendek.

Pergerakan bursa global juga masuk dalam radar. Riset BRI Danareksa menyoroti pelemahan Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq pada sesi sebelumnya sebagai salah satu faktor eksternal yang dapat membayangi IHSG. Dengan kombinasi sentimen global, arus dana asing, dan keputusan MSCI, arah pasar masih berpotensi berubah cepat.

Dalam kondisi seperti ini, level support dan resistance dapat menjadi panduan untuk membaca pergerakan indeks, sementara keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Pelaku pasar akan menunggu apakah hasil review MSCI cukup kuat untuk mengimbangi tekanan jual dan membuka ruang bagi IHSG untuk berbalik menguat.