Survei opinion leaders Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memberi Prabowo Subianto skor rata-rata 5,1 dari skala 0 sampai 10 untuk kualitas kepemimpinannya. Dalam studi yang sama, Mahfud MD memperoleh nilai tertinggi, 7,6, sementara Gibran Rakabuming Raka meraih 4,4.
Hasil tersebut disampaikan pendiri SMRC, Saiful Mujani, dalam presentasi bertajuk “Kepemimpinan Nasional Demokratik-Transformatif: Survei Opinion Leaders” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026. Studi dilakukan pada September 2026.
Penilaian ini mengukur pandangan responden terhadap kualitas personal dan kepemimpinan sejumlah tokoh, bukan tingkat keterpilihan mereka. Skor Prabowo berada di bawah beberapa nama lain yang dinilai, tetapi di atas Gibran dan Kaesang Pangarep.
Skor Prabowo pada aspek profesionalisme TNI dan Polri
Salah satu nilai terendah Prabowo tercatat pada indikator komitmen terhadap profesionalisme angkatan bersenjata dan kepolisian. Ia memperoleh skor 4,2 pada aspek tersebut. Nilai itu sama dengan skor Kaesang Pangarep dan menjadi yang terendah di antara seluruh tokoh yang dinilai untuk indikator itu.
Aspek tersebut dinilai penting oleh mayoritas responden. Sebanyak 84 persen opinion leaders menyebut komitmen agar TNI berfokus pada fungsi pertahanan dan Polri pada keamanan serta ketertiban masyarakat sebagai kriteria yang sangat penting bagi calon presiden.
Temuan ini menempatkan profesionalisme aparat sebagai salah satu ukuran yang diperhatikan para penilai dalam melihat kualitas kepemimpinan nasional. Namun, skor per indikator tidak berdiri sendiri: nilai rata-rata keseluruhan dihitung dari penilaian terhadap sejumlah kriteria kepemimpinan.
Mahfud MD memimpin penilaian kualitas tokoh
Dalam skor rata-rata kualitas tokoh secara umum, Mahfud MD berada di posisi pertama dengan nilai 7,6. Lima tokoh lain—Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama, Dedi Mulyadi, Pramono Anung Wibowo, dan Zainal Arifin Mochtar—masing-masing memperoleh skor 7,0.
Di bawah kelompok tersebut, Sri Mulyani Indrawati mendapat nilai 6,9 dan Ganjar Pranowo 6,8. Prabowo mencatat 5,1. Adapun Bahlil Lahadalia memperoleh 4,9, Gibran 4,4, dan Kaesang 4,0.
SMRC juga memetakan tokoh dengan nilai tertinggi pada kategori tertentu. Mahfud dinilai sebagai tokoh terbaik secara umum, sedangkan Sri Mulyani menjadi yang terbaik di kategori tokoh perempuan. Basuki Tjahaja Purnama unggul sebagai kader partai terbaik dan Agus Harimurti Yudhoyono menempati posisi teratas untuk kategori ketua umum partai politik.
Pramono Anung menjadi yang terbaik dalam kategori kader partai di pemerintahan. Zainal Arifin Mochtar memimpin kategori intelektual publik independen, sementara Dedi Mulyadi unggul pada ukuran kedekatan penilaian antara opinion leaders dan pemilih umum.
Integritas menjadi kriteria utama penilai
Survei tersebut juga menggambarkan kriteria yang dianggap penting dalam kepemimpinan nasional. Integritas menempati urutan teratas: 96 persen responden menilainya sebagai aspek yang sangat penting. Pada indikator integritas, Mahfud memperoleh skor 7,6, sedangkan Bahlil mendapat 4,2, Gibran 4,0, dan Kaesang 3,8.
Setelah integritas, responden menempatkan kapabilitas atau kompetensi sebagai kriteria penting berikutnya. Komitmen terhadap kesejahteraan umum, demokrasi, dan kemampuan memimpin juga masuk dalam pertimbangan. Akseptabilitas, profesionalisme TNI dan Polri, serta komitmen pada politik luar negeri bebas aktif turut dinilai penting.
SMRC menyebut studi ini melibatkan 200 opinion leaders, terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dan 34 jurnalis. Pemilihan kelompok tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa pemilih umum kerap memiliki informasi terbatas mengenai rekam jejak dan kualitas personal para tokoh.
Karena itu, hasil survei ini dapat dibaca sebagai penilaian dari kelompok yang dinilai memiliki pengetahuan lebih mendalam, bukan gambaran langsung preferensi seluruh pemilih. Ukuran seperti integritas, kompetensi, dan sikap terhadap profesionalisme aparat memberi konteks bagi masyarakat untuk menilai kualitas pemimpin di luar popularitas. SMRC berharap temuan tersebut menjadi salah satu rujukan rasional dalam pembahasan kepemimpinan nasional.

