Hajime Moriyasu Dikaitkan dengan Kursi Pelatih Malaysia

Hajime Moriyasu Dikaitkan dengan Kursi Pelatih Malaysia

Nama Hajime Moriyasu disebut masuk dalam bursa calon pelatih Timnas Malaysia di tengah pencarian sosok permanen untuk menangani Harimau Malaya. Namun, Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) menegaskan belum mengambil langkah konkret dan masih akan membahas persoalan tersebut.

Rumor yang mengaitkan pelatih Timnas Jepang itu dengan Malaysia dilaporkan sejumlah media asing dan segera menarik perhatian penggemar sepak bola Asia Tenggara. Jika benar berlanjut, kemungkinan tersebut akan menambah persaingan antarpelatih berpengalaman di kawasan. Sejauh ini, belum ada keputusan resmi yang mengonfirmasi bahwa Moriyasu menjadi pilihan FAM.

Presiden FAM, Datuk Ab Ghani Hassan, memberikan penjelasan mengenai kabar tersebut. “Belum ada langkah konkret dari pihak FAM. Kami akan membahas persoalan ini secara mendalam,” ujar Ghani pada Selasa (13/10/2026).

FAM belum menetapkan pelatih permanen

Pernyataan Ghani menempatkan kabar soal Moriyasu pada tahap penjajakan, bukan pengumuman penunjukan. FAM, menurut laporan sumber, masih mempertimbangkan pilihan sebelum mengambil keputusan akhir mengenai pelatih kepala. Karena itu, hubungan Moriyasu dengan kursi Harimau Malaya untuk saat ini masih sebatas rumor yang beredar.

Pencarian itu berlangsung setelah Peter Cklamovski mengundurkan diri pada Juni 2026. Kursi pelatih Timnas Malaysia kini ditempati Tan Cheng Hoe sebagai pelatih interim. Situasi tersebut membuat federasi perlu menentukan sosok yang akan menangani tim secara permanen, sekaligus memberi ruang bagi munculnya sejumlah nama calon.

Belum adanya kepastian juga berarti belum tersedia keterangan mengenai tahap pembicaraan, tawaran resmi, maupun tanggapan Moriyasu terhadap rumor tersebut. Informasi yang disampaikan FAM sejauh ini hanya menegaskan bahwa federasi belum mengambil langkah konkret. Dengan demikian, kabar soal pelatih Jepang itu perlu dibaca sebagai bagian dari spekulasi bursa, bukan kepastian perpindahan.

Rekam jejak Moriyasu menjadi daya tarik

Moriyasu memiliki pengalaman panjang bersama Timnas Jepang. Ia memimpin Samurai Biru sejak Agustus 2018 dan mendampingi tim tersebut di Piala Dunia 2022 di Qatar serta Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Pengalaman tampil di turnamen terbesar sepak bola dunia itu menjadi salah satu alasan namanya dinilai menarik bagi negara yang tengah mencari pelatih berpengalaman.

Kontrak Moriyasu dengan Asosiasi Sepak Bola Jepang dikabarkan berakhir setelah Piala Asia 2027 di Arab Saudi. Jadwal kontrak tersebut turut menjadi dasar munculnya spekulasi bahwa ia dapat dikaitkan dengan proyek jangka panjang Malaysia. Namun, berakhirnya kontrak yang dikabarkan itu sendiri tidak membuktikan bahwa Moriyasu akan meninggalkan Jepang atau menerima tawaran dari FAM.

Bagi Malaysia, pelatih dengan pengalaman di level internasional berpotensi membawa perspektif dan pendekatan baru. Meski begitu, reputasi seorang pelatih bukan jaminan hasil. Kecocokan strategi dengan pemain yang tersedia, kualitas skuad, dan dukungan terhadap program tim tetap menentukan apakah pengalaman tersebut dapat diterjemahkan menjadi prestasi.

Persaingan pelatih di Asia Tenggara menguat

Rumor ini muncul ketika negara-negara Asia Tenggara berupaya meningkatkan daya saing sepak bola mereka. Timnas Indonesia, misalnya, telah menunjuk John Herdman sebagai pelatih utama. Kehadiran nama pelatih berpengalaman di sejumlah tim nasional membuat persaingan taktik regional kian menjadi sorotan.

Herdman dan Moriyasu memiliki latar pengalaman yang berbeda, tetapi kabar ketertarikan Malaysia terhadap pelatih Jepang itu langsung memunculkan perbandingan di antara proyek tim nasional kawasan. Jika Moriyasu benar-benar masuk dalam pertimbangan FAM, Malaysia berpeluang bersaing untuk mendapatkan figur dengan rekam jejak di Piala Dunia. Untuk saat ini, belum ada konfirmasi bahwa proses tersebut berjalan.

Rekam jejak Shin Tae-yong yang menangani Indonesia pada periode 2020 hingga 2025 juga disebut sebagai bagian dari perubahan pendekatan kepelatihan di kawasan. Pergerakan federasi dalam mencari pelatih dengan pengalaman dan reputasi internasional memperlihatkan besarnya perhatian terhadap peningkatan kualitas taktik. Namun, dampaknya tetap bergantung pada kesinambungan program di masing-masing negara.

Keputusan FAM akan menentukan arah Harimau Malaya

Penunjukan pelatih baru bukan satu-satunya faktor yang membentuk masa depan Timnas Malaysia. Kualitas individu pemain, konsistensi pembinaan, serta dukungan federasi menjadi unsur penting agar rencana di lapangan dapat berjalan. Pelatih baru membutuhkan lingkungan kerja dan program yang mendukung, bukan sekadar nama besar di kursi utama.

Karena itu, langkah berikutnya yang dinantikan adalah keputusan FAM setelah pembahasan internal. Sampai federasi menyampaikan pengumuman, posisi Moriyasu tetap berada dalam ranah rumor, sementara Tan Cheng Hoe menjalankan tugas sebagai pelatih interim. Kejelasan proses perekrutan akan menjadi penanda awal arah yang hendak ditempuh Malaysia untuk membangun daya saing Harimau Malaya.