Buyback Emiten Dorong Saham Menguat, Bank Ikut Melonjak

Buyback Emiten Dorong Saham Menguat, Bank Ikut Melonjak

Gelombang rencana pembelian kembali saham atau buyback mengiringi pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa pagi, 20 Oktober 2026. Setelah anjlok dalam dua hari perdagangan, indeks menguat 3,12 persen atau 156,05 poin ke level 5.152,66 pada pukul 10.03 WIB, sekaligus kembali menembus angka psikologis 5.100.

Sejumlah saham yang mengumumkan rencana buyback turut bergerak naik. Saham Barito Renewables Energy (BREN), misalnya, menguat 7,63 persen ke Rp1.975 per saham. Chandra Asri Pacific (TPIA) naik 5,33 persen, sedangkan Barito Pacific (BRPT) menguat 2,09 persen.

Pengumuman buyback muncul di tengah tekanan jual yang dipicu kekhawatiran terhadap kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Meski begitu, rencana pembelian kembali saham dan kenaikan harga pada perdagangan pagi itu merupakan perkembangan yang berlangsung beriringan; belum ada kepastian bahwa buyback menjadi satu-satunya pendorong pemulihan.

Enam emiten siapkan dana buyback Rp4,6 triliun

Sedikitnya enam emiten menyiapkan dana buyback dengan nilai gabungan maksimal Rp4,6 triliun. Lima perusahaan terafiliasi dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja, sementara satu lainnya adalah Paramita Bangun Sarana (PBSA).

Dari kelompok Prajogo Pangestu, BRPT, TPIA, dan BREN masing-masing mengalokasikan dana maksimal Rp1 triliun. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) menyiapkan Rp500 miliar. TPIA juga merencanakan pembelian kembali maksimal 800 juta saham, atau sekitar 0,92 persen dari jumlah saham yang diterbitkan.

Dian Swastatika Sentosa (DSSA), yang berasal dari Grup Sinarmas, menyiapkan dana Rp1 triliun. Sementara itu, PBSA menganggarkan Rp100 miliar. Jadwal pelaksanaan tiap perusahaan berbeda: BRPT merencanakan buyback hingga akhir Desember 2026, DSSA menyiapkan periode sampai 18 Januari 2027, dan PBSA menjadwalkannya pada 20 Oktober 2026 hingga 19 Januari 2027.

Besaran dana tersebut merupakan batas maksimal anggaran, bukan jumlah yang sudah dibelanjakan. Buyback sendiri adalah aksi perusahaan membeli kembali sebagian sahamnya yang beredar di pasar. Karena itu, pengumuman rencana belum berarti seluruh dana akan terserap atau harga saham pasti bergerak naik.

Saham DSSA pulih, CUAN masih melemah

Di antara saham-saham tersebut, DSSA menguat 5,48 persen ke Rp770 per saham pada Selasa pagi. Kenaikan itu memperpanjang pemulihan setelah saham sempat menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), yakni batas penurunan harga harian, pada Jumat.

Pada Senin, DSSA sempat dibuka di level ARB Rp665, tetapi kemudian keluar dari batas tersebut dan ditutup di Rp730. Dengan kenaikan pada Selasa pagi, saham itu tercatat menguat selama dua hari perdagangan berturut-turut.

Pergerakan CUAN berbeda. Saham tersebut sebelumnya ditutup di batas ARB Rp540 pada Jumat dan kembali terkena ARB pada Senin di Rp505. Pada Selasa pagi, harganya sempat turun ke Rp470 sebelum bergerak naik ke Rp494. Meski telah menjauh dari batas bawah, CUAN masih melemah 2,18 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Di luar enam emiten itu, Bank Central Asia (BBCA) juga melanjutkan program buyback pada 19–21 Oktober 2026. Perseroan sebelumnya telah menjalankan pembelian kembali saham pada April dan Juni.

Saham bank ikut bangkit setelah tekanan jual

Pemulihan pada Selasa pagi juga terlihat di sektor perbankan. Enam bank besar yang dipantau seluruhnya menguat, dengan lima di antaranya mencatat kenaikan lebih dari 5 persen. Bank Mandiri (BMRI) memimpin dengan kenaikan 7,44 persen ke Rp3.610 per saham.

Bank Syariah Indonesia (BRIS) menyusul dengan lonjakan hampir 7 persen, sementara Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) sama-sama naik lebih dari 5 persen. BBCA kembali menyentuh Rp5.000 setelah sehari sebelumnya terpuruk ke Rp4.820.

Sebelumnya, saham perbankan termasuk yang mengalami tekanan jual setelah pengumuman MSCI. Pada Jumat, BBCA, BBRI, dan BMRI sempat menyentuh ARB. Sehari kemudian, BBCA kembali ditutup di batas tersebut, sedangkan BBRI sempat menyentuhnya.

Tekanan pasar berkaitan dengan langkah MSCI yang membuka kemungkinan menurunkan status Indonesia dari pasar berkembang atau Emerging Market menjadi Standalone Market. MSCI menyoroti keterbukaan kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta penegakan aturan pasar. Jika perubahan status terjadi, Indonesia berisiko dikeluarkan dari sejumlah indeks global yang menjadi acuan dana asing.

Keputusan itu belum final. Pelaku pasar masih dapat menyampaikan masukan hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan MSCI dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Danantara melihat peluang investasi

Di tengah gejolak, Danantara menyatakan siap menambah investasi pada saham BUMN yang dinilai memiliki kondisi bisnis baik. CEO Danantara Rosan Roeslani pada Jumat, 16 Oktober 2026, menyebut penurunan harga saham sebagai peluang investasi jangka panjang.

“Kita harus tetap melihat ini suatu opportunity, optimis, kami yakini, dan kami dari Danantara siap masuk,” kata Rosan.

COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria pada Senin, 19 Oktober 2026, juga membuka peluang menambah kepemilikan saham BUMN. “Kalau bagus ya kita beli, terutama saham-saham BUMN kan, dan nanti akan menambah kepemilikannya,” ujarnya.

Rencana buyback dan pernyataan Danantara menjadi perhatian ketika pasar berusaha pulih dari aksi jual besar. Namun, investor masih perlu mencermati perkembangan keputusan MSCI dan kondisi masing-masing emiten. Pengumuman buyback dapat menjadi sinyal dukungan perusahaan terhadap sahamnya, tetapi besaran dana, jadwal, dan realisasi pembelian tetap menjadi hal yang perlu dipantau.