Saham GOTO Lepas Gocap, Analis Bidik Rp70

Saham GOTO Lepas Gocap, Analis Bidik Rp70

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mulai mencari harga keseimbangan baru setelah batas minimum Rp50 atau level gocap tak lagi berlaku di pasar reguler. Setelah sempat tertekan, saham perusahaan teknologi itu berbalik menguat dan sejumlah analis melihat ruang kenaikan, meski tekanan jual dan volatilitas masih menjadi risiko.

Pada Jumat, 2 Oktober 2026, saham GOTO naik 7,14 persen ke Rp30 dengan nilai transaksi harian Rp2,7 triliun. Sehari setelahnya, perdagangan masih bergerak di kisaran Rp29–Rp30. Perubahan aturan harga memberi ruang bagi saham untuk diperdagangkan di bawah Rp50, tetapi sekaligus membuka fase penyesuaian yang tajam.

Dalam empat hari perdagangan pertama setelah batas gocap dibuka, GOTO berada di bawah tekanan dan sempat menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Pada perdagangan terakhir pekan itu, antrean jual yang sebelumnya menumpuk di level ARB tak lagi terlihat. Aktivitas transaksi pun meningkat.

Target harga GOTO beragam, dari Rp60 hingga Rp95

Proyeksi analis menunjukkan potensi kenaikan yang lebar dibandingkan harga pasar, tetapi angka targetnya tidak seragam. Analis Phillip Sekuritas Indonesia, Edo, menyebut konsensus harga wajar GOTO berada di kisaran Rp65–Rp74 per saham. Dengan acuan harga Rp28, kisaran itu setara potensi kenaikan sekitar 132–164 persen.

Edo menilai harga Rp28 belum sepenuhnya mencerminkan bisnis GoTo. Menurutnya, pasar seolah hanya menghargai aset likuid perusahaan, padahal pendapatan dan profitabilitasnya menunjukkan perbaikan. Namun, ia menekankan bahwa selisih target dan harga pasar baru berpeluang menyempit apabila tekanan jual mereda dan investor kembali menilai kinerja usaha.

Data konsensus analis yang dihimpun Bloomberg per 7 Oktober 2026 menempatkan target rata-rata GOTO di Rp70,5, atau sekitar 127,4 persen di atas harga penutupan sebelumnya di kisaran Rp31. Dari 29 analis, 22 memberikan rekomendasi beli, enam menyarankan tahan, dan satu merekomendasikan jual.

Target individual juga bervariasi. Willinoy Sitorus dari UOB Kay Hian memperkirakan harga Rp60, sementara Norman Choong dari CLSA memasang target Rp70. Ferry Wong dari Citi menetapkan Rp95; sebaliknya, Karen Chow dari Sucor Sekuritas memberi proyeksi lebih moderat, yakni Rp32. Deutsche Bank mempertahankan valuasi Rp85 per saham.

Fundamental dan valuasi jadi penopang optimisme

Optimisme tersebut bertumpu pada perbaikan kinerja keuangan. GoTo membukukan laba bersih Rp171 miliar pada kuartal I-2026 dan Rp252 miliar pada kuartal II. Dengan demikian, laba bersih semester pertama mencapai Rp423 miliar, sementara laba kuartal II meningkat sekitar 47 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pendapatan bersih pada kuartal II tercatat Rp5,7 triliun, tumbuh 31 persen secara tahunan. EBITDA Grup yang disesuaikan juga untuk pertama kalinya menembus Rp1 triliun. Untuk sepanjang 2026, perusahaan menargetkan EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.

Perbaikan operasional itu belum otomatis menghapus tekanan di pasar saham. Pada pekan 28 September–2 Oktober, volume perdagangan GOTO mencapai 110,96 miliar saham, tertinggi di Bursa Efek Indonesia. Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Leonardo Lijuwardi, mengatakan investor lokal maupun asing, institusi maupun ritel, mulai memanfaatkan penurunan harga untuk akumulasi.

Leonardo menilai valuasi GOTO pada harga Rp30 masih relatif rendah, dengan rasio price-to-book value (PBV) sekitar satu kali. Dengan asumsi nilai buku per saham tetap, PBV dua kali akan menyiratkan harga sekitar Rp60. Angka itu masih lebih rendah daripada rata-rata PBV perusahaan teknologi lokal yang ia gunakan sebagai pembanding, yakni sekitar empat kali. Perhitungan tersebut merupakan skenario valuasi, bukan kepastian harga akan mencapai level itu.

Tekanan jual dan aksi korporasi masih dicermati

JP Morgan memberi rekomendasi overweight dengan target Rp68. Bank investasi itu memperkirakan kisaran Rp25–Rp30 dapat menjadi batas bawah berdasarkan pendekatan sum-of-the-parts. Perhitungannya mencakup kas bersih Rp13 per saham, nilai kini biaya layanan e-commerce Rp10, serta nilai kepemilikan GoTo di Bank Jago Rp3 per saham.

Di sisi lain, tekanan jual masih berpotensi membatasi pergerakan. InvestorTrust mencatat tekanan jual GOTO dapat mencapai 1 miliar lot per hari. JP Morgan juga memperkirakan arus keluar dana pasif sekitar 116 miliar saham setelah GOTO keluar dari indeks MSCI dan FTSE. Angka dan proyeksi itu menjadi perhatian pasar, terutama selama pasokan saham masih besar.

GoTo telah memperoleh persetujuan untuk melakukan buyback dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun. Perusahaan juga mengusulkan pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri. Pelaksanaan kedua langkah tersebut, bersama perkembangan laba dan arus kas, akan terus dicermati investor.

Dengan demikian, prospek saham GOTO berada di antara peluang pemulihan dan risiko gejolak jangka pendek. Target analis memberi gambaran potensi, bukan jaminan. Arah harga berikutnya akan sangat bergantung pada meredanya tekanan jual serta kemampuan GoTo mempertahankan pertumbuhan pendapatan dan profitabilitasnya.