Volvo Cars Tertekan: Rugi, PHK, dan Saham Anjlok

Volvo Cars Tertekan: Rugi, PHK, dan Saham Anjlok

Volvo Cars menghadapi tekanan bisnis yang kian berat setelah mencatat kerugian operasional besar pada kuartal III-2026, menguras kas lebih cepat, dan mengumumkan pemangkasan tambahan 2.500 pekerja. Saham produsen mobil asal Swedia itu anjlok 24 persen pada penutupan perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, hingga mencapai level terendah sepanjang sejarah.

Rentetan kabar tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap prospek perusahaan, tetapi belum berarti Volvo berada di ambang kebangkrutan. Perusahaan masih memiliki kas lebih dari 30 miliar krona Swedia. Namun, jika tekanan berlanjut, kebutuhan tambahan modal dapat menjadi persoalan yang harus dihadapi.

Kerugian operasional Volvo melampaui perkiraan

Volvo membukukan kerugian operasional sebesar 3,7 miliar krona Swedia atau sekitar 373 juta dollar AS pada kuartal III. Hasil itu berbalik tajam dari laba 5,8 miliar krona pada periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus jauh lebih buruk daripada perkiraan pasar sebesar 724 juta krona, menurut konsensus yang dikutip Analis Citi.

Arus kas perusahaan juga tertekan. Sepanjang kuartal tersebut, Volvo menggunakan sekitar 8,9 miliar krona kas—dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025. Margin kotor turun menjadi 14,7 persen dari 20,4 persen setahun sebelumnya. Pendapatan kuartal ketiga pun merosot hampir 50 persen.

Tekanan itu datang dari sejumlah arah: permintaan kendaraan listrik yang tidak merata, tarif yang meningkat, serta situasi pasar China yang sulit. Di negara tersebut, persaingan harga dengan produsen lokal semakin ketat. Volvo mengatakan akan lebih mengutamakan margin daripada mengejar pangsa pasar, sehingga tidak ikut terlibat dalam perang harga.

“Kuartal III-2026 sangat mengecewakan dan mencerminkan kondisi tahun ini yang jauh lebih menantang daripada perkiraan awal. Oleh karena itu, rencana pemulihan yang sedang kami jalankan perlu diperkuat secara tegas,” kata CEO Volvo Hakan Samuelsson, seperti dikutip Reuters.

Pemangkasan 2.500 pekerja dan target penghematan

Untuk merespons tekanan, Volvo mengumumkan tambahan pemangkasan 2.500 pekerja, sebagian besar di Swedia. Langkah ini ditargetkan selesai pada pertengahan 2027. Samuelsson tidak menutup kemungkinan perusahaan mengambil tindakan tambahan jika kondisi belum membaik.

Pengurangan tersebut diperkirakan berdampak pada sekitar 6 persen dari total tenaga kerja. Caranya mencakup penghentian kontrak konsultan, pengurangan alami jumlah karyawan, serta paket pengunduran diri yang ditargetkan. Kebijakan baru itu menyusul pengumuman pengurangan 3.000 pekerjaan sebelumnya.

Volvo juga masih perlu memangkas biaya tambahan sebesar 5 miliar krona. Perusahaan telah menjalankan pemangkasan biaya besar-besaran, menerapkan strategi regionalisasi, dan mempererat hubungan dengan Geely Holding, pemegang saham mayoritasnya yang berasal dari China. Meski demikian, prospek bisnis justru memburuk.

Analis Handelsbanken Hampus Engellau memperingatkan bahwa Volvo mungkin membutuhkan tambahan modal jika kondisi tersebut berlangsung dua kuartal lagi. Ia juga mencatat perusahaan masih memiliki kas lebih dari 30 miliar krona. Dengan demikian, tantangan likuiditas perlu dicermati, tetapi angka yang tersedia belum menunjukkan bahwa perusahaan telah kehabisan dana.

Pasar China dan produksi EX60 jadi ujian

Kesulitan Volvo mencerminkan tekanan yang lebih luas di industri otomotif Eropa. Permintaan yang lemah, persaingan dari produsen China, dan kelebihan kapasitas pabrik menekan margin keuntungan. Volkswagen juga menghadapi masalah, dengan rencana memangkas hingga 100.000 pekerja serta kemungkinan menutup sejumlah pabrik.

Di tengah situasi itu, Volvo mengandalkan EX60, SUV listrik yang dikembangkan dari model terlarisnya, XC60, sebagai salah satu penopang pemulihan. Namun, produksi EX60 tertunda cukup signifikan akibat kendala perakitan baterai. Hingga laporan tersebut disusun, Volvo baru memproduksi sekitar 5.000 unit, jauh dari target 40.000 unit untuk tahun ini.

Perusahaan bulan ini membatalkan proyeksi volume penjualan dan arus kas untuk setahun penuh. Langkah itu menambah ketidakpastian bagi investor, sementara saham Volvo sudah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Enam dari 13 model yang direncanakan meluncur hingga akhir dekade ini akan dirancang khusus untuk pasar China.

Tantangan besar bagi CEO berikutnya

Samuelsson kembali dari masa pensiun pada 2025 dengan kontrak dua tahun untuk membalikkan kinerja Volvo. Tahun depan, ia akan digantikan Klaus Zellmer, mantan bos Skoda. Analis Bernstein menilai Zellmer akan menghadapi pekerjaan yang lebih sulit daripada saat penunjukannya diumumkan sebulan sebelumnya, dan pemulihan perusahaan kemungkinan tidak berlangsung cepat.

Di sisi lain, Volvo masih dapat memanfaatkan teknologi dan struktur biaya yang lebih rendah dari Geely. Faktor itu menjadi salah satu penopang ketika perusahaan berupaya menyeimbangkan penghematan, peluncuran model baru, dan persaingan di China. Keberhasilan EX60 serta kemampuan menjaga kas akan menjadi hal penting yang patut dicermati dalam perjalanan pemulihan Volvo berikutnya.